KotaSantri.com - Salim, nama anak itu. Rumahnya di dekat masjid. Hampir
setiap hari ia selalu bermain di halaman masjid yang memang lumayan
luas. Sebenarnya umurnya jauh lebih tua dariku, mungkin saat ini sudah
menginjak 25 tahun, namun ia tidak tumbuh layaknya pemuda normal.
Kelainan mental yang dideritanya sejak bayi membuatnya masih seperti
anak kecil.
Malangnya, nama Salim sering dipakai ibu-ibu untuk
menakuti anak-anaknya yang bandel. Padahal sampai saat ini tak pernah
ada seorangpun yang disakitinya. Setiap pagi Salim membantu Jidan,
pemuda penjaga masjid, untuk memunguti daun-daun yang gugur di halaman,
tak jarang pula ia ikut membuang sampah itu ketempat pembuangan di
samping masjid. Seperti dua orang sahabat, Jidan selalu bahagia dibantu
olehnya, meski tak banyak yang bisa ia kerjakan.
Ketika selesai
dengan tugas mereka, Jidan menghidangkan teh panas dan beberapa
gorengan untuk sarapan mereka berdua. Tak ada kata malu, jijik atau
apalah dalam hati Jidan ketika sarapan bersamanya. Dengan tulus Jidan
menyayanginya, tanpa melihat keadaan fisik Salim. "Dia makhluk Allah,
Wi. Dan bukan keinginannya untuk berada dalam kondisi itu." katanya
suatu hari ketika kutanya tentang sikapnya yang agak "berbeda" dengan
orang lain.
Saat hari beranjak siang, Jidan bersiap-siap ke
kampus, sementara Salim telah pulang karena dipanggil ibunya untuk
mandi. Selesai mandi, ia pun kembali datang ke masjid, mendapati Jidan
tidak ada, tampak kecewa dari raut wajahnya. Dan dia pun kembali bermain
dengan kesunyiannya di teras masjid.
Adakalanya dia diusir
oleh jamaah, mereka tak ingin masjid kotor, karena Salim tidak
menggunakan sandal. Jika itu terjadi, Jidan pun memanggilnya agar ia
masuk lewat belakang saja.
"Aku heran, mengapa orang harus
mengusir Salim dari teras masjid ini, toh dia hanya duduk di situ, tidak
menginjakkan kakinya ke masjid." katanya suatu hari padaku usai
seseorang mengusir Salim.
"Jidan, mereka takut Salim masuk dengan kaki yang kotor." kataku.
"Wi, ini rumah Allah, setiap manusia berhak untuk memasukinya, tak
peduli apakah itu kita atau Salim, masjid ini takkan pernah kotor
dihadapan Allah, karena dimasuki oleh orang yang membersihkannya, tapi
justru kan terkotori dengan sikap kita yang mencemooh makhluk
ciptaanNya, lagi pula kita tak pernah tau, apakah kita lebih baik
dihadapan Allah ketimbang Salim 'kan??? Mungkin kita malah jauh lebih
hina." katanya padaku.
Ya, aku rasa dia benar, mungkin dalam
sebulan aku hanya sekali memunguti sampah-sampah di halaman masjid ini,
ketika ada kerja bakti remaja masjid, tapi Salim....... Ya Allah
maafkanlah aku yang tak pernah menghargainya, maafkan aku Salim.
***
"Bunda, Wia pergi dulu ya!!!" kataku seraya mencium tangan bunda.
"Mau kemana, Wi?" tanya bunda.
"Wia mau ke masjid, ada beberapa ketikan yang belum Wia selesaikan untuk Buletin Ummat." jawabku.
"Tapi pulangnya jangan terlalu malam ya, Wi." sahut bunda.
"Iya bunda, lagipula kan ada mas Raffi, nanti kita pulang bareng deh."
kataku mengingatkan bunda kalau disana juga ada kakakku.
"Iya, tapi bilang juga sama mas mu, pulangnya jangan malam-malam, besokkan masih harus kuliah." timpal bunda.
"Iya, bunda sayang, udah ya bunda, assalamu'alaikum." ucapku sambil ke luar rumah menuju mesjid.
"Wa'alaikumussalam." jawab bunda pelan.
***
"Uh, bahannya masih kurang akurat, nih." kataku seraya menyodorkan beberapa kertas ulasan berita pada Fatimah.
"Apanya yang kurang akurat dek?" mas Raffi mulai sebel padaku, yang dari tadi sewot dengan berita-berita yang ia sodorkan.
"Iya dong, masa' jumlah korban, dan kerugian yang diakibatkan penyerangan sepihak AS terhadap Fallujah nggak ada." protesku.
"Ya ampun dek, namanya juga nyari berita di internet, iya gitulah keadaannya......". kakakku balas menjawab.
"Iya Wi, apalagi media penyiaran 'kan didominasi sama AS dan Yahudi,
nggak bisa lagi, nyari yang bener-bener akurat, sekarang hanya gimana
kita bisa menginformasikan apa yang terjadi di Fallujah kepada jamaah di
sini." timpal Jidan. "Iya deh, kalau emang gitu." kataku menyerah,
Fatimah dan beberapa teman redaktur lainnya hanya tersenyum melihatku
yang masih agak sewot. Akhwat yang satu ini emang terkenal tenang, nggak
seperti aku yang suka nyerocos.
"Yup, akhirnya selesai juga,
tinggal diterbitkan dan semuanya beres." ujarku. Mas Raffi, Jidan dan
Fatimah senyum-senyum melihat tingkahku.
"Dasar!!! paling cepet marahnya, eh paling cepet juga senengnya." ujar mas Raffi seraya memencet hidungku.
"Biarin." jawabku sekenanya.
"Udah yuk, kita pulang sekarang." ajak Fatimah.
"Iya, besok Wia ada ulangan, yuk mas." kutarik tangan mas Raffi keluar
dari sekretariat remaja masjid. Kami bersama-sama berjalan di teras
masjid yang beberapa lampunya telah dipadamkan oleh Jidan, ia pun ikut
mengantar kami pulang sampai ke pintu depan.
"Eh, tumben ya! Udah malam begini masih ada yang shalat." ujar Yesi sambil menunjuk ke dalam masjid.
"Mana, Yes?" ucapku.
"Eh iya." sambung mas Raffi. Dalam keremangan cahaya kulihat sosok
gempal sedang berdiri tegak dengan tangan yang dilipat kedepan. Tapi
Yesi benar, tumben ada orang yang masih shalat malam-malam begini,
kulirik jam tangan ku, 09.50 malam. Penasaran kami memperhatikannya,
apalagi gerakan shalatnya terlihat aneh dimataku, dan...???
Ow ow... semua terperangah, hanya Jidan yang tersenyum tipis.
Subhanallah... Itu kan Salim. Semua terpesona melihatnya. Ada getaran
aneh yang memasuki relung hati kami. Terlintas betapa egoisnya kami yang
selama ini menganggap ibadah dan Islam hanya milik orang yang sehat
jasmani dan rohani. Malam ini telah Allah tunjukkan bahwa Salim juga
salah satu pemegang panji perjuangan Islam, paling tidak dia salah
seorang yang telah menegakkan tiang agama.
Tak terasa dia pun
selesai dan kaget mendapati kami sedang memperhatikannya. Dia tersenyum,
mulai menggerakkan bibir dan tangannya, menunjuk ke arah tempat wudhu,
entah apa artinya.
"Katanya, kakiku tidak kotor, aku sudah
mecucinya dan berwudhu, aku hanya ingin shalat." ujar Jidan
menterjemahkan. Dia mengangguk dan tersenyum.
"Iya, kamu boleh shalat kok, kapan aja." ujar Chika menahan haru.
Ya Allah... Aku menangis, terasa sesak dadaku mengingat keegoisanku dan
semua orang padanya. Bukankah dia hanya ingin shalat??? Dan bukankah
dia juga bagian dari kita disini???
Oh Salim, teruslah shalat,
dan teruslah tegakkan tiang agama ini, karena orang yang normal belum
tentu melakukannya. Benar kata Jidan, kita belum tentu lebih baik
darinya.
Malam itu kami semua pulang dengan berjuta perasaan,
ada haru, ada malu, dan pasti ada rasa syukur, karena Allah memberikan
kami Salim yang senantiasa dapat memotivasi kami untuk lebih baik
dihadapan sang Khalik. Alhamdulillah...
Untuk saudara yang telah mengajarkanku betapa aku harus bersyukur.